Sabtu, 06 April 2013

YESUS DIANGKAT MENJADI TUHAN OLEH KAISAR ROMAWI

Irene Handoko lahir dalam keluarga katolik etnis tionghoa yang taat. Sejak kecil ia sudah bercita-cita menjadi seorang biarawati. Waktu berusia 19 tahun ia mengambil fakultas comparative religion, jurusan islamologi. Disini untuk pertama kali Irene mengenal Islam dan diperbolehkan membaca Al-Qur'an dengan syarat untuk mencari kelemahan-kelemahan Islam.

Entah mengapa, surat yang pertama kali dibaca irena adalah surat Al-Ikhlas. Pelan-pelan surah itu dibaca dan diresapi. Dalam hati kecilnya, ia membenarkan bahwa ALLAH itu Ahad, ALLAH itu satu, ALLAH tidak beranak, tidak diperanakkan, dan tidak sesuatu pun yang menyamai-NYA. Konsepsi ini lantas menjadio bahan diskusi Irene dengan pastur. Irene tetap bersikukuh bahwa Tuhan itu satu tidak sebagaimana konsep ‘trinitas’ yang selama ini diajarkan dan menjadi dogma yang wajib diterima tanpa perlu dipertanyakan. Keteguhan inilah yang menjadi awal mula perselisihannya dengan pastur sehingga ia memutuskan dengan kesadaran penuh untuk keluar dari biara.

Pencariannya ihwal kebenaran Islam kian menggila. Berbagai literature pun dibaca. Sampai suatu ketika, ia menemukan keterangan tentang sejarah penuhanan yesus. Yesus untuk pertama kali disebut dengan sebutan ‘Tuhan’ terjadi pada 325 Masehi. Sebelum itu, yesus belum menjadi tuhan. Yang melantiknya sebagai Tuhan adalah Kaisar Romawi, Kaisar Constantien. Pelantikannya terjadi dalam sebuah conseni (konferensi) di kota Nizea.

Kebiasaannya mengkaji Al-Qur'an tetap diteruskannya, sampai Irene berkesimpulan bahwa agama yang hak itu hanya satu, Islam. Dan pada akhirnya Irene pun membaca dua kalimat syahadat dan pergi haji ke Tanah Suci. Ia pun kerap diundang untuk berdakwah di Jakarta. (Kisah Para Mualaf merengkuh Hidayah, 2010)

KENAPA LUKISAN WAJAH NABI MUHAMMAD TIDAK ADA?

Saat Nabi Muhammad SAW hidup, tidak ada seorang pun yang pernah melukis wajahnya, dan juga kamera foto belum lagi ditemukan.

Jadi itulah sebenarnya duduk masalahnya. Dan dengan masalah itu sebenarnya kita harus bangga. Sebab keharaman menggambar wajah nabi SAW justru merupakan bukti otentik betapa Islam sangat menjaga ashalah (originalitas) sumber ajarannya.

Larangan melukis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam terkait dengan keharusan menjaga kemurnian ‘aqidah kaum muslimin. Sebagaimana sejarah permulaan timbulnya paganisme atau penyembahan kepada berhala adalah dibuatnya lukisan orang-orang sholih, yaitu Wadd, Suwa’, Yaguts, Ya’uq dan Nasr oleh kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam. Memang pada awal kejadian, lukisan tersebut hanya sekedar digunakan untuk mengenang kesholihan mereka dan belum disembah. Tetapi setelah generasi ini musnah, muncul generasi berikutnya yang tidak mengerti tentang maksud dari generasi sebelumnya membuat gambar-gambar tersebut, kemudian syetan menggoda mereka agar menyembah gambar-gambar dan patung-patung orang sholih tersebut.

Melukis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dilarang karena bisa membuka pintu paganisme atau berhalaisme baru, padahal Islam adalah agama yang paling anti dengan berhala.

Demikian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela kelakuan orang-orang ahli kitab yang mengkultuskan orang-orang sholih mereka dengan membuat gambar-gambarnya agar dikagumi lalu dipuja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menyerupai mereka :

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.” ( HR. Abu Dawud )
Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Janganlah kalian menyanjungku berlebihan sebagaimana orang-orang Nashrani menyanjung Putera Maryam, karena aku hanya hamba-Nya dan Rasul utusan-Nya.” ( HR. Ahmad dan Al-Bukhori )

Itulah sebab utama kenapa Umat Islam dilarang melukis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu dalam rangka menjaga kemurnian ‘aqidah tauhid.
Allahu Akbar !!! Allahu Akbar!!!

Wallahu a`lam.